Tugas Bahasa Indonesia

 Teks Cerita Sejarah 

------------------------------------------

Nama         : Kantika Klarasanti

Kelas         : XII MIPA 10

No. Absen : 12

------------------------------------------


𝑹𝒐𝒎𝒂𝒏𝒔𝒂 𝑷𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝑹𝒆𝒗𝒐𝒍𝒖𝒔𝒊




Pagi itu kota Malang menjadi lebih dingin dari biasanya. Penjajahan yang Jepang lakukan selama 3,5 tahun itu membuat kami, penduduk Indonesia, tidak memilik baju yang pantas. Tetapi kami harus bersyukur, dibandingkan penduduk lainnya, yang hanya menggunakan baju berbahan karung goni, pakaian kami jauh lebih baik.

Oh ya, namaku Sulistina atau biasa dipanggil Lies oleh orang terdekatku. Aku lahir di Malang pada tanggal 25 Oktober 1925. Dan aku memilih untuk tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SMP, karena orangtuaku tidak tega melepasku sekolah ke Surabaya. Maklum menjelang akhir zaman penjajahan Jepang, keadaan tidak menentu. Di Malang waktu itu belum ada sekolah SMA. Jadi daripada aku diam saja di rumah aku pun memilih untuk bekerja.

 Maklum menjelang akhir zaman penjajahan Jepang, keadaan tidak menentu. Di Malang waktu itu belum ada sekolah SMA. Jadi daripada aku diam saja di rumah aku pun memilih untuk bekerja.

Pagi itu aku yang sedang sibuk menyelesaikan ketikan kantor Keisatsubu mendengar Suara Bung Tomo dari radio saat itu. Gema suara Bung Tomo begitu menggelegar. Saat itu, orang-orang Jepang yang sedang mondar-mandir di kantor-ku langsung seperti harimau yang kelaparan. Kami semua terpukau, ada perasaan aneh yang menjalar di dada kami, ada juga keinginan berontak dan sekaligus berjuang untuk negara. "Bung Tomo betul. Kita tidak mau dijajah lagi. Cukup 350 tahun diinjak-injak Belanda". Terdengar suara keras dari kaum pria, "Dijajah lagi? Tidak mau!"

Suara Bung Tomo rasanya selalu ada di telingaku. Bahkan saat kerja-pun aku masih terbayang oleh ucapan Bung Tomo. Setelah jam kantor aku memutuskan untuk tidak langsung pulang tetapi  ke Markas Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) terlebih. Sejak seruan MERDEKA bergema, kami sebagai perempuan juga, tidak mau ketinggalan. Kami ingin ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan tanah kelahiran kami. Saat itu para pemudi BPRI mengadakan latihan menggunakan pistol, karaben, granat, dan juga metraliur, kami, para perempuan, mengikutinya. Namun tentu saja dalam kursus kilat tentang senjata itu kami belum menguasai betul, tetapi kalau menunggu tahu teknik seluruhnya, kapan kami ke medan pertempuran?

Selesai berlatih, Aku ke rumah Ibu Sumarno, menitipkan perhiasan yang kupakai. Kalau kutitipkan pada ibuku sendiri, pasti beliau khawatir. Apa yang akan terjadi jika perhiasannya ditinggal di rumah? Maklum aku anak perempuan satu-satunya di antara 6 bersaudara. Aku tahu sebetapa khawatir ibu jika aku ikut berjuang untuk kemerdekaan kami.

"Ibu..", aku memanggilnya lirih ketika mengikuti Ibu ke ruang tengah. Ibu memandangku. Matanya yang teduh itu menangkap apa yang ingin kukatakan walau pun aku belum mengucapkannya.

"Aku...aku..." Kalimat terpenggal. Aku tidak kuasa menatap mata Ibu yang bagai danau itu. "Ibu tahu. Kamu mau minta izin untuk berjuang kan?" sahut Ibu lirih. Aku cuma mengangguk. Mata Ibu memancarkan kasih sayang. Tangannya mengelus rambutku.

Air mataku kutahan. Aku takut Ibu tidak merelakan aku pergi. Ibu tersenyum. Kami tidak berbicara dengan ucapan, tetapi dengan pandangan. Aku tahu Ibu mengizinkan aku berjuang, sebagaimana para Ibu lainnya yang tidak menahan anaknya pergi ke medan perang untuk kemerdekaan bangsa dan negara. Aku mencium tangan Ibu. Aku mohon doa restu.

Setelah pamit kepada ibu, kami berangkat siang itu juga ke Surabaya, ke garis depan. Ada rasa bangga luar biasa, kami bisa ke garis depan. Aku masih ingat hari pada tanggal 11 November 1945. Kami, tiga gadis dari PMI tetapi sudah mendapat latihan kilat tentang senjata. Matahari mulai condong ke Barat. Kami langsung berangkat dengan semangat. Tiga gadis dan dua pemuda mendapat jatah naik mobil. Walau mobil sudah tua tetapi masih dapat diandalkan. Entah dari mana mobil itu diperoleh.

Yang lainnya naik truk yang berderet ke belakang. Berjubel bukan main. Ada yang mengenakan ikat pita merah putih di dahi, ada yang membawa kelewang, keris pusaka, dan hanya sedikit yang membawa senjata perang modern.

Sampai serak suara kami menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sampai pegal tangan kami mengacungkan kepalan sambil berteriak, "Merdeka... Merdeka... Merdekaa...".

Tengah malam kami baru tiba di Surabaya. Kami bertiga, yang perempuan, dititipkan di rumah keluarga Bandarkoem pegawai DKA di Tembol Dukuh, dekat dengan markas BPRI. Pagi-pagi kami pergi ke markas. Halaman markas BPRI sudah penuh dengan para pemuda usia belasan tahun, juga ada orang-orang dewasa. Mereka hilir mudik menyandang senjata, ada ang punya bren, pistol, dan granat bergelantungan di pinggang. Ada yang mempunyai pistol dua, granat dua, dan digantungkan di kanan kiri pinggang, tambah menyandang karaben, seperti sebuah arsenal lewat.

Hari semakin siang dan semakin banyak yang datang di markas. Yang baru datang dari front, melaporkan pada pimpinan. Badannya lusuh tetapi matanya tetap cemerlang. Pengalaman perang yang menakjubkan. Ada yang masih muda sekali, yang berusaha untuk berani seperti lain-lainnya. Untuk menghilangkan rasa takut, pemuda ini melengkingkan teriakan paling lantang, "Merdeka atau mati!"

Tiba-tiba ada bunyi mortir menggelegar. Pesawat terbang melintas di atas markas, riuh bunyinya. Kami bertiga anggota PMI dari Malang langsung menyurukkan badan bersembunyi di kolong meja. Begitu memang yang diajarkan ketika akhir zaman Belanda jika ada serangan harus bersembunyi agar kami tidak kena pecahan bom.

Aku dengar ada yang tertawa keras. Huh, pemuda dari Surabaya yang sudah terbiasa dengan hujan mortir itu menertawakan kami yang dari Malang. "Durung maju perang wis ndelik. Yok opo se...!?" (Bagaimana ini, belum maju perang sudah bersembunyi?). Wah sakit telinga ini mendengarnya. Memang di Malang tidak pernah mendapat serangan seperti ini, tetapi mereka tidak pantas menertawakan kami. Tentu saja kami merengut. Dan berusaha beakrab dengan maut yang dijatuhkan dari udara. Lama-lama kami terbiasa juga, menjadi acuh tidak acuh seperti lainnya. Aku merasa ada sepasang mata mengawasiku. Matanya yang bulat itu tidak menertawakan kami. la seperti mengerti ketakutan kami sampai bersembunyi di kolong meja.

Suatu pagi ada seorang pemuda menghampiriku. Matanya itu, aku takkan lupa. Ia mengenakan setelan dril ala Jepang, dengan peci hijau tua yang disemati emblem banteng merah putih. Kumisnya rapi seperti kumis Errol Flinn, bintang film Amerika terkenal pada masa itu. "Jeng, kita pindah markas. Kita mundur ke Jalan Mawar. Di sini tidak aman lagi. Dan keadaan bertambah gawat, Palang Merah juga harus pindah", ucapnya kalem. Matanya seperti menancap di mataku. Entah mengapa hatiku bergetar. Aku tidak kuasa menjawabnya. Hanya mengangguk.

Ketika menjauh, aku bertanya pada seorang kawan siapa dia. "Kau tidak kenal dia?" kawan itu balik bertanya. Aku menggelengkan kepala. "Ya. itu Bung Tomo", ucapnya. Baru itu aku tahu pemuda yang punya wajah tampan dan mata yang tajam itu adalah Bung Tomo.

Pada saat aku sedang duduk di kantor, lalu tiba-tiba datang seorang pemuda menghampiriku. “Perkenalkan, namaku Sutomo, panggil saja Tomo” sambil menjulurkan tangannya. “Sulistina, Mas,” jawabku sambil balas menyalami tangannya sambil tersipu malu.

Beberapa hari berlalu, pada sore hari itu aku duduk di depan rumah. Aku memandangi taman yang penuh ditumbuhi bunga-bunga yang ditanam oleh nenekku. Alangkah indah dan damainya suasana. Sementara itu, jauh di sana para pejuang sedang menyambung nyawa demi kemerdekaan.

Beberapa orang pemuda datang, ternyata mereka Mashur dan kawan-kawan BPRI lainnya. Cerah sekali wajah mereka. Mereka mengatakan bahwa ada teman yang berulang tahun dan akan mentraktir kami di restoran Hongkong.

"Cepat Lies, ayo ikut. Kawan-kawan sudah menunggu di sana", ucap Mashur ketika aku merapikan rambutku yang panjang. "Kapan lagi kita makan di restoran? Di garis depankan kita Cuma makan nasi bungkus! Makanya cepat sedikitlah, nanti dihabisi mereka", ungkapnya lagi. Aku pamit pada Ibu dan Bapak.

Pada masa revolusi orangtua memberikan kelonggaran kepada gadisnya, boleh keluar rumah asal rame-rame. Ayah tidak pernah menegurku dan dia percaya padaku sepenuhnya. Lagipula bukankah aku telah membuktikan bahwa aku dapat menjaga diri ketika di Surabaya?

Setiba di restoran, tidak ada wanita seorang pun dari kawan seperjuangan, dari dapur umum juga tidak ada. "Mana kawan-kawan?" tanyaku sambil heran. "Sudah berangkat ke rumah yang berulang tahun. Sepertinya kita ditinggal mereka. Nanti kita susul. Sekarang kita makan enak dulu" ujar Mashur.

Hidangan disantap dan lahap sekali makan mereka. Apa yang dihidangkan habis ludes, seperti harimau kelaparan saja. Tidak enak rasa hatiku, seorang diri di antara begitu banyak lelaki di dalam restoran. Aku hanya makan sedikit sekali. Rasanya kok pria-pria di sana menatapku?

"Ayo kita berangkat langsung ke tempat yang berulang tahun" ajaknya. Kami ke Jalan Wahidin, ke rumah mbakyu Kadi. Di sana memang ada beberapa teman. Tiba-tiba mataku menatap sosok yang kukenal, Bung Tomo. Aku cuma mengangguk ketika dia tersenyum menyambut. Seperti diatur kawan-kawan.

Mbakyu Kadi menarik tanganku lalu lewat pintu belakang menyuruhku memasuki mobil. Ketika aku duduk masuklah Bung Tomo, sehingga di tempat duduk di belakang hanya aku dan dia. Bung Tomo mengenakan kacamata hitam, ciri khasnya pada waktu itu. Sepertinya dia salah tingkah.

Sepanjang perjalanan ada saja yang dikerjakan. Memakai kaos kaki, kacamata yang bolak-balik dibersihkan, atau pura-pura memperhatikan jalanan. Aku diam saja berusaha mengacuhkannya. Ternyata tidak ada yang berulang tahun. Yang ada hanyalah rapat BPRI. Bung Tomo berbicara tentang keamanan dan kewaspadaan. Aku mulai menangkap makna senyum-senyum kawan-kawan. Rupanya pertemuanku dengan Bung Tomo itu adalah hasil rekayasa anak buahnya. Memang seorang pemimpin tinggal memberi perintah saja dan anak buahnya yang melaksanakannya.

Aku sama sekali tidak mempunyai prasangka. Mungkin karena kebodohanku atau kepolosanku? Setelah mendengarkan pidato Bung Tomo, aku diantar pulang oleh kawan-kawan. Dua minggu kemudian kawan-kawan mengajakku menghadiri pertemuan ke gedung KNIP. "Ini undangannya. Masa gak percaya pada kami?" ucap yang mengajak. "Rapat penting sekali untuk kita semua termasuk engkau." kata lainnya memperkuat. Aku berangkat ke rapat. Di sana ada Bung Tomo yang sedang berpidato. Kalau Bung Tomo berpidato semua orang terpukau. Matanya yang bulat itu berapi-api dan tangannya diangkat ke atas. Bung Tomo seakan menebar sihir dan kami semua bertepuk tangan yang sangat meriah.

Seusai acara Bung Tomo didaulat untuk menyanyi. Dengan langkah sigap dia melompat ke panggung lagi dan mengalunkan lagu, "Rindu lukisan... Mata suratan hatiku nan merindu". Hatiku bergetar. Aliran darahku mengalir kencang. Aku menunduk. Ketika aku mengangkat wajah, mata Bung Tomo masih menatapku seakan lagu itu khusus untukku. Aku menunduk lagi. Apalagi kawan-kawan melirikku. Bahkan ada kawan putri yang mencolek lenganku sambil menuding Bung Tomo. Aku tersipu-sipu. "Pipimu seperti kepiting rebus"  bisik kawan yang duduk disebelahku. "Pipi merah pertanda aliran darah yang dibawa dari hati ke pipi," godanya lagi. "Ssst diam ah" tukasku.

"Ssst diam. Lies mau mendengar suara Bung Tomo, jangan ada yang ribut," bisiknya lagi, semakin menggoda. Aku semakin tersipu, dan semakin merah saja mukaku dan aku menunduk lagi. Tetapi mataku ingin menatap sepasang mata bola yang sedang memancarkan cahaya asmara. Pada saat itu rasanya aku kena panah asmara.

Aku masih ingat dengan tanggalnya, 1 Januari 1946. Bahkan aku ingat dengan jamnya, yaitu jam 1 siang, Kota Malang yang biasanya dingin, hari itu amat panas sekali. Aku, seorang teman wanita, dan adik wanita Bung Tomo sedang ngobrol di kamar depan. Ada setumpuk majalah di meja. Kami memang mengumpulkan majalah-majalah bekas untuk bacaan kawan- kawan yang pulang dari front. Kami masing-masing mengambil sebuah bacaan dan membacanya. Karena terserap oleh bacaan, aku tidak menyadari bahwa dua kawan gadis itu tidak ada di kamar. Ah, mungkin mereka mengambil minum. Aku tidak peduli dan kembali mengasyiki bacaan lagi.

"Apa yang dibaca, Jeng?" Suara Bung Tomo tiba-tiba ada di dekatku. Majalah masih kupegang dan Bung Tomo mengambil majalah itu dan diletakkan di sampingku. Aku tidak bergerak seperti patung, ketika dia duduk di sampingku. "Jeng Lies apa sudah ada yang punya?" dia bertanya langsung.

"Sudah" jawabku spontan. Wajah Bung Tomo tampak kecut. "Betul apa? Siapa orangnya?" desaknya lagi. Dia duduk lebih dekat lagi. Walau aku sering duduk berdesakan dengan laki-laki ketika di mobil, tetapi duduk amat dekat Bung Tomo membuat perasaanku guncang juga. Dalam hati aku berharap dua kawan gadisku tadi segera masuk ke kamar lagi. Tetapi, dua teman itu tidak kunjung datang. "Siapa dia yang begitu bahagia?" tanya Bung Tomo lagi. Aku diam sejenak dan memandangnya, sebelum aku menjawab. "Ayah" kataku lirih. Sepertinya aku tidak berani berkata keras. Aku seperti dipaku.

"Kurang ajar," katanya gemas. "Jeng Lies mempermainkan aku ya?" kata Bung Tomo lagi sambil bernapas lega. Wajahnya kembali berseri. "Ternyata, Jeng Lies bisa melucu!" Dia memegang tanganku. Aku bertambah deg-degan. "Kan betul! Situ tanya aku ini yang empunya siapa? Ya ayahku". Eh, tiba-tiba mulutku bisa merocos dan menjawab dalam kalimat panjang. Bung Tomo tertawa keras. Itulah hari yang tidak pernah kulupakan dalam hidupku. Aku mengenakan seragam dril warna krem.

Seragam sewaktu aku ikut Joshi Seinendan pada zaman Jepang. Aku memang menjadi anggota Seinendan, belajar baris-berbaris dan latihan menbawa senjata dari kayu. Itulah modalku ketika bergabung dengan BPRI. Bung Tomo mengenakan hem tentara Jepang dipadu dengan sarung. Dia kelihatan selalu rapih. Rambutnya tidak pernah awut-awutan.

"Jeng Lies menyihir saya, ya?" Tiba-tiba suara Bung Tomo membangunkanku dari lamunan. Aku terperanjat. "Apa?" mataku terbelalak lebar. Sepertinya dia mendakwaku bahwa aku bermain dengan sihir atau mendukuninya. "Lho, Tho, begitu saja kaget. Salah tangkap lagi. Begini, terus terang sewaktu aku melihat Jeng pertama kali di markas Tembok Dukuh, wajah Jeng selalu terbayang. Sepertinya wajah Jeng menempel di mataku. Aku masih ingat Jeng memakai celana panjang biru tua, berkacamata hitam dan berdiri acuh tidak acuh di muka jendela markas. Seolah-olah Jeng Lies tidak melihatku! Gadis lain memperhatikanku tetapi Jeng Lies tidak."

"Aku bukan gadis lain," sahutku. "Jeng Lies adalah gadis lain daripada yang lain," jawabnya cepat. "Anehnya tiap kali aku mandi, wajah Jeng Lies terbayang. Aku guyur badanku agar bayanganmu hilang, tetapi ee, enggak hilang-hilang malah semakin jelas."

"Ah", kataku, "itu sih namanya... vini, vidi, dan vici. Aku datang, aku terlihat, dan aku taklukkan."

"EEE... jangan sombong too. Aku ini banyak yang menaksir. Sekarang banyak orangtua yang ingin mengambilku sebagai menantu. Dan bekas pacar-pacarku sekarang ini juga ingin Kembali kepadaku, setelah aku jadi Bung Tomo dan terkenal. Tetapi ada seorang gadis yang tahu aku ini Bung Tomo, tetapi tidak tertarik ketenaran Bung Tomo. Ini yang membuat aku tergila-gila padanya dan wajahnya selalu terbayang di mukaku".

Ah, Bung Tomo memakai taktik memanas-manasi hatiku. Aku balas dia. "Aku juga. Jangan dikira tidak ada yang menaksir aku. Antri loo! Mereka antri ingin mengambil aku menjadi istrinya."

"Ada yang menarik hati?" tanyanya. Wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Matanya menatapku seolah dia menghunjam panah ke bola mataku. "Aku kan harus berpikir-pikir dulu siapa yang cocok dan tidak akan mengecewakan hidupku."

"Kalau ada musuh yang siap menembak, dan yang akan menembak masih pikir-pikir dulu, itu kelamaan. Aku dikenal sebagai pemimpin yang baik dan aku adalah seorang pandu yang suci dalam perkataan dan perbuatan. Pasti aku tidak akan mengecewakanmu. Kalau Bung Tomo berjanji kepada istrinya bahwa dia tidak akan mengecewakan istrinya dan dia akan mencintainya sampai akhir hayatnya. Janji itu pasti akan kutepati. Seorang pejuang tidak akan mengingkari janjinya. Aku mencintaimu sepenuh hatiku, aku ingin menikahimu kalua Indonesia sudah Merdeka. Aku akan membahagiakanmu dan tidak kan mengecewakanmu seumur hidupku."

Suara Bung Tomo yang semula lembut semakin meninggi. Wajahnya serius, janjinya dijucapkan dengan kata yang jelas dan tegas. Selama hidupku belum pernah aku menghadapi seorang pria yang langsung menyatakan cintanya padaku dan mengutarakan isi hatinya. Memang ada yang mengirim surat mengatakan cinta atau via orang lain mengatakan mencintaiku, tetapi tidak pernah secara langsung dengan sikap kesatria begitu. Tangan Bung Tomo menggenggam tanganku.  Dia tidak perlu menunggu jawabanku sebab dia pasti tahu bahwa jawabanku adalah “Ya..”

Pacaran pada zaman revolusi walau tidak sama dengan pacaran di masa kini, tidak kalah indahnya. Bertemu dengan orang yang dicintai di antara desing peluru atau pada waktu di garis belakang, ada getarnya sendiri. Disela-sela begitu banyak kawan-kawan seperjuangan yang ingin bertemu dengan Bung Tomo, diantara tugas memberi semangat anak buah di front, toh masih ada waktu untuk kami berdua.

Waktu yang amat singkat tetapi terasa manis. Hanya pandang mata, bertanya apa kabar? atau pada kesempatan yang lebih lama Bung Tomo bercerita tentang masa kanak-kanak dan remaja. Bung Tomo tidak pernah menunjukan keletihannya. Senyumnya selalu menyungging di bibirnya. Dengan menceritakan masa lalu, rupanya Bung Tomo ingin memperkenalkan dirinya secara utuh. Kenakalan, cita-cita, dan kehidupannya dalam kepanduan. Inilah cara khas dari Bung Tomo agar mengenalnya lebih mendalam.

Suatu sore ada kiriman yang datang dengan alamat rumahku yong aku kira dari Bung Tomo, ternyata dari seorang gadis. Isinya bros, gelang dan kalung dari perak bakar. Tulisan di surat kecil, "Mengembalikan perhiasan perak bakar dari Bung Tomo." Gadis itu tidak mau menerimanya. Wah, gawat! Dadaku rasanya sakit sekali, hati rasanya panas dan aku mulai cemburu. Mengapa Bung Tomo yang katanya amat mencintaiku masih sempat memberi perhatian kepada gadis lain dan memberinya oleh-oleh? Apakah ini betul? Begitu Bung Tomo datang ke Malang, aku segera menemuinya. Merah padam wajahku. Langsung aku minta dijelaskan persoalan ini. Alis Bung Tomo bertaut. Dia mengumpat gaya Surabaya,"Kau kira aku ini pria macam apa, tidak mempunyai perasaan? Aku tidak pernah memberi oleh-oleh pada gadis lain. Pasti ini perbuatan Asmanu. Jangkrik! Masih juga dia begitu." Bung Tomo mengatupkan bibirnya.

Garis rahangnya menguat. "Kalau ada yang ngacau hubungan kita, cepat laporkan padaku," ucapnya tegas, suara komandan kepada anak buah. Toh aku tetap minta dijelaskan hubungannya dengan gadis itu dan tentang Asmanu. "Aku dulu pernah melamar seorang gadis. Tetapi orangtuanya tidak mengizinkan. Aku cuma anak orang miskin bernama Tjiptowidjoyo dan rumah kecil yang isinya berjubel dengan kedua orangtua dan adik-adikku. Aku tidur di ruang tamu dan tidak punya dapur, sementara Ibu masak pun di emperan. Tidak seperti rumab di Jalan Ijen. Permulaan zaman Jepang, yang miskin melamar anak orang berada, tentu saja ditolak."

“lalu kenapa Asmanu mengirimkan ini kepadaku?” kataku. "Dia tidak tahu bahwa aku pernah ditolak oleh orangtua gadis itu. Hanya gadis yang tahu. Ah, pasti waktu kita ke Jogja waktu itu dia beli barang-barang tersebut dan mengacau dengan guyonan konyolnya. Aku yakin dia! Pasti perbuatannya. Kurang ajar!" Aku percaya ucapan Bung Tomo.

Bagaimana pun ada lagi badai yang mengguncang hubungan kami. Kali ini yang kena aku. Ada provokasi yang kejam. Dikatakan aku tidak perawan. Kali ini ngadu kepada Bung Tomo. "Alaaaah, begitu saja Jeng pikir. Pokoknya aku percaya kepada mu. Di kemelut perjuangan begini jangan mengindahkan gosip".

Gangguan-gangguan kecil pada tumbuh kembangnya masa pacaran masih ada saja. Meskipun tahu bahwa Bung Tomo punya kekasih, tetapi semakin banyak gadis-gadis yang berusaha menggoyahkan hatinya dan berusaha menarik perhatian. Bahkan ada juga orangtua yang mau menyodorkan putrinya, ketika Bung Tomo ke daerah. Akhirnya Bung Tomo memutuskan agar kami bertunangan saja, resmi dan aman dari godaan.

Lamaran sudah ditentukan pada tanggal 5 Mei 1946. Bapak dan Ibu Ciptowidjoyo secara resmi melamarku kepada ayah ibu dengan membawa peningset seperangkat pakaian. Kian peningset masih saya simpan hingga sekarang. Peningset adalah menandakan terikatnya janji cinta kasih.

Upacara yang sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja. Sebentujik cincin bertuliskan Sutomo melingkar di jari manisku sebelah kiri dan cincin nertuliskan Sulistina melingkar di jari Bung Tomo. Cincin ini mengingatkan bahwa aku adalah calon istri Bung Tomo.

Walau pun sudah resmi dipinang dan bertunangan, tetapi percintaan kami bukan percintaan yang bebas lepas. Bagaimana pun, pada masa perjuangan kami tetap memegang adat secara teguh. Kami juga tidak dapat bebas berjalan-jalan sebagaimana layaknya muda-mudi yang pacaran. Bung Tomo sebagai pucuk Pimpinan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia dan pengobar semangat perjuangan, sering diincar oleh musuh. Hanya pada kala pulang dari front atau peninjauan daerah lain, kami bertemu. Waktu yang sedikit cukuplah sebagai obat rindu.

Tanpa terasa satu setengah tahun telah lewat. Betapa banyaknya peristiwa yang telah terjadi. Betapa banyak pejuang yang telah gugur mempertahankan kemerdekaan. Harga yang mahal bagi bangsa yang ingin merdeka, karena taruhannya tidak hanya harta tapi nyawa. Terlalu sering aku melihat ibu yang menangisi putra putrinya yang gugur. Namun sebagaimana semboyan pada waktu itu, goegoer satoe toemboeh seriboe dan juga kita cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan. Rasanya ada waktu itu maut adalah kawan yang akrab dan sama sekali tidak menakutkan.

Keadaan semakin genting. Pertempuran berkobar dimana-mana. Bung Tomo tetap menggelegarkan suaranya lewat Radio Pemberontakan dari BPRI, yang terpaksa berpindah-pindah karena kejaran Belanda. Sebab selama Bung Tomo masih ada di depan corong radio pemberontakan, suaranya masih dapat didengar ribuan bahkan jutaan penduduk dan dapat membakar semangat untuk berontak.

Bung Tomo adalah merupakan aset nasional kata kawan-kawan seperjuangannnya. Pidatonya digunakan untuk membakar semangat rakyat agar tetap dapat berkobar. Karena itu Bung Tomo harus diselamatkan, kata mereka lagi.

Pemerintah Belanda memang telah mengumumkan akan memberikan hadiah bagi mereka yang dapat menyerahkan Bung Tomo dan Bung Karno.

Akhirnya mereka memutuskan bahwa Bung Tomo untuk sementara waktu harus diungsikan ke Australia. Karena Australia sudah terbukti membantu perjuangan Indonesia walau pun mereka itu tergabung dalam tentara Sekutu dalam Perang Dunia I. Di Sydney para pekerja pelabuhan dan para pelaut Indonesia mengadakan pemogokan dan memboikot kapal-kapal Belanda yang membuat serdadu NICA dan akan mengangkut senjata. Aksi pemboikotan didukung oleh pekerja Cina dan India.

Australia menjadi pilihan kawan seperjuangan untuk Bung Tomo guna melanjutkan perjuangan. Di sana, kata mereka, Bung Tomo dapat mengobarkan semangat rakyat Indonesia lewat radio dan diusahakan agar suaranya sampai di Indonesia.

Namun, ada syarat yang diajukan kawan-kawan. Bung Tomo harus menikah dulu, tanpa menunggu selesainya perjuangan. Alasannya adalah karena di sana gadis-gadisnya sangat agresif. Itulah yang dipakai senjata oleh lawan-lawan politiknya termasuk PKI, yang selalu mendengungkan bahwa Bung Tomo ingkar janji, karena dalam pidatonya dia mengatakan bahwa dia tidak akan menikah sebelum perjuangan selesai dan kemerdekaan tercapai.

"Sekarang ini kita sudah merdeka," kata temannya. "Zus Lies dapat membantu Bung Tomo dan menjaganya di sana, agar suara Bung Tomo tetap mengalir dan membakar semangat rakyat."

"Kita rela kehilangan harta, nyawa dan keluarga demi mempertahankan kemerdekaan. Tetapi kita tidak rela kehilangan Bung Tomo, sebab Bung diperlukan untuk menggerakkan semangat rakyat. Kami membutuhkan orator yang dapat membangkitkan semangat. Itulah senjata Bung yang ampuh."

Keputusan sudah bulat. Bung Tomo tidak dapat menolak. Pernikahan diputuskan tanggal 19 Juni 1947. Tetapi ada syarat yang diajukan. Kami harus berjanji melaksanakan dengan patuh, syarat ini demi keselamatan negara. Menurut orang-orang tua dalam keadaan perang jika ada pemimpin pasukan atau negara yang menikah harus pantang melakukan hubungan suami istri selama 40 hari. Ini kepercayaan. Kami memperkuat tekad. Untuk mengisi malam pengantin, Bung Tomo menceritakan pengalaman-pengalaman yang lucu sebagai jenderal di medan pertempuran. Kadang-kadang Bung Tomo tidak maju sendiri membawa senjata membunuh musuh, tetapi dia yang memberi komando dan mengatur siasat perang



Tempat tidur kami begitu sempit dan berderit jika kita bergerak sedikit saja. Barang kali orang-orang yang belum tidur mengira lain. Sebab kami tertawa tertahan, takut mengganggu. Bung Tomo bercerita terus, tetapi bukan snow white dan malam pertama kami menjadi malam penuh cerita. Kami memang tidak berani tidur, kuatir kalau lupa janji. Ya, siapa tahu antara sadar dan tidak sadar kita lupa pada janji kita. Alhamdulillah, fajar menyingsing, tanpa ada pelanggaran.

Beberapa bulan kemudian aku hamil anak pertama kami. Mas Tom senang sekali mendengarnya. Dia memintaku untuk beristirahat dan makan yang banyak. Setelah 9 bulan, anakku lahir, perempuan, dan diberi nama Tien Sulistami.

Dan inilah akhir kisah diriku, Sulistina, istri dari pahlawan nasional, Sutomo.

 

 

 

 



Komentar

  1. ceritanya sangat menarik, tokohnya pun sangat menginspirasi sekali, dan kaidah kebahasaan yang digunakan pun sudah sesuai sehingga ceritanya mudah di pahami, strukturnya lengkap,kerennn👍🏻👍🏻

    BalasHapus
  2. Teks nya sangat bagus dan juga menarik dibaca karena jalan ceritanya seru. Dan juga banyak pelajaran yang dapat kita ambil. 👍👍👍

    BalasHapus
  3. Teks cerita sejarah yang dibuat sangat menarik. Cerita tersebut juga sudah memenuhi struktur dan kaidah kebahasaan teks cerita sejarah. Penggunaan bahasa dan pemilihan katanya mudah dipahami sehingga pembaca dapat memahami isi cerita dengan baik ☺️👍

    BalasHapus
  4. Ceritanya bagus dan menarik sehingga pembaca tidak cepat bosan ketika membaca ceritanya. Selain itu struktur dan kaidah kebahasaannya juga Sudah benar dan sesuai dengan aturan yang berlaku.

    BalasHapus
  5. Teks cerita sejarah yang dibuat sangat menarik. Penulisan teks sudah baik dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaan yang tepat.

    BalasHapus
  6. Gaya bahasa yang digunakan mudah dimengerti, jalan ceritanya menarik, kadiah kebahasaan yang digunakan sudah baik dan benar

    BalasHapus
  7. Teks cerita sejarah yang dibuat sangat bagus dan sangat menarik. Cerita yang dibuat juga sudah memenuhi struktur dan kaidah kebahasaan teks cerita sejarah.

    BalasHapus
  8. teks cerita sejarah ini sudah memiliki susunan yang sangat rapi dan tertata jelas. sangat menarik. semangat!!

    BalasHapus
  9. struktur teks cerita sejarahnya sudah lengkap, pemilihan kata yang digunakan juga mudah untuk dipahami, alur ceritanya sangat menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  10. ceritanya sangat bagus dan menarik, kaidah kebahasaannya sudah sesuai dan bahasa yang di gunakan dalam cerita tersebut mudah di pahami

    BalasHapus
  11. cerita nya menarik, struktur nya sudah baik dan lengkap, bahasa yang digunakan mudah di mengerti

    BalasHapus
  12. ceritanya sangat menarik ditambah penggunaan bahasa dan penulisan yang rapi, jadi nyaman bacanya

    BalasHapus

Posting Komentar