Tugas Bahasa Indonesia

Kritik dan Esai

Nama            : Kantika Klarasanti

Kelas            : XII MIPA 10

No. Absen    : 12


Tugas ini disusun untuk memenuhi Tugas pelajaran Bahasa Indonesia pada bab Kritik dan Esai.


 Teks Kritik


Bekisar Merah dan Belantik

Karya Ahmad Tohari




Dasar pemikiran analisis feminism dalam novel Bekisar Merah dan Belantik adalah upaya untuk pemahaman kedudukan dan peran perempuan yang tercermin dalam novel ini. Kedua novel tersebut merupakan kisah yang menjadi tokoh utamanya Lasi. Novel Bekisar Merah ini merupakan episode pertama tokoh Lasi sebagai wanita Indo (blasteran Jepang-Jawa) yang mengalami hidup menderita karena hanya dianggap sebagai barang dagangan yang diperjualbelikan dan hidup sebagai peliharaan orang kaya. Adapun Belantik merupakan episode kehidupan Lasi yang berada di dalam cengkeraman bu Lanting dan tetap menjadi barang yang dapat dialihpinjamkan dari Handarbeni ke tangan Bambung.

Dalam novel Bekisar Merah terdapat adanya konsep gender antara laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan yang tidak bersifat alami, yakni seorang perempuan yang hanya dijadikan objek laki-laki, ia tidak dianggap subjek yang hidup. Darso sebagai suami yang laki-laki telah mengkonstruksi Lasi yang perempuan secara sosiologis sebagai objek yang dipersamakan dengan benda-benda mati sebagaimana yang dihadapi setiap hari. Seperti kutipan berikut :

Di mata Darso, pesona dan gairah hidup yang baru beberapa detik lalu direkamnya dari pohon-pohon kelapa di seberang lembah, kini berpindah sempurna di tubuh Lasi sama seperti pohon-pohon kelapa yang selalu menantang untuk disadap, pada diri Lasi ada janji dan gairah yang sangat menggoda. Pada Lasi terasa ada wadah pengejawantahan diri sebagai laki-laki dan penyadap (Tohari, 1993: 9)

Di rumah, Lasi menyiapkan tungku dan kawah untuk mengolah nira yang sedang diambil suaminya (Tohari, 1993: 16).

Ini menunjukkan adanya gambaran perempuan yang telah dikonstruksi secara sosiologis oleh seorang laki-laki. Lasi di mata Darso dianggap sebagai gambaran pesona dan gairah hidup pohon kelapa bukan sebagai individu yang hidup yang mempunyai jiwa dan karsa manusia pribadi. Darso sebagai penyadap menganggap istrinya sebagai objek untuk disadap. Pada diri Lasi yang terlihat oleh Darso bukan sebagai pribadi manusia akan tetapi sebagai pohon-pohon kelapa yang memberi gairah dan menantang untuk disadap. Pada diri Lasi yang perempuan hanya dianggap sebagai wadah pengejawantahan suaminya yang laki-laki dan penyadap. Lasi sebagai seorang perempuan bekerja mengolah nira di rumah sedangkan Darso sebagai laki-laki lebih menggunakan kekuatan fisik bekerja di luar rumah mencari nira dengan naik pohon-pohon kelapa.

Dalam novel ini terungkap adanya konsep patriarki yakni member prioritas dan kekuasaan terhadap laki-laki. Namun demikian sebetulnya dalam novel ini pengarang sudah mencoba memberi kekuatan kepada perempuan. Hanya saja perempuan tersebut sudah mengalami pembentukan tingkah laku secara sosiologis oleh generasi sebelumnya, sehingga perempuan terbelenggu oleh norma patriarki. Seperti kutipan berikut :

Pernah karena ketiadaan kayu kering dan kebutuhan sangat tanggung, lasi harus merelakan pelupuh tempat tidurnya masuk tungku. Tanggung karena sedikit waktu lagi nira akan mengental jadi trengguli. Dalam tahapan ini pengapian tidak boleh berhenti dan pelupuh tempat tidur adalah kemungkinan yang paling dekat untuk menolong keadaan. Meskipun begitu tak urung Lasi ketakutan, khawatir akan kena marah suaminya karena telah merusak tempat tidur mereka satu-satunya. Untung untuk kesulitan semacam ini emak Lasi mempunyai nasehat yang jitu: segeralah mandi, menyisir rambut, dan merahkan bibir dengan mengunyah sirih. Kenakan kain kebaya yang terbaik lalu sambutlah suami di pintu dengan senyum. Nasehat itu memang manjur. Darso sama sekali tidak marah….., ,Darso lebih tertarik pada istrinya yang sudah berdandan (Tohari, 1993: 17).

Lasi dalam menghadapi situasi yang terdesak harus segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan masakan nira yang merupakan tanggung jawabnya agar menjadi gula dapat dijual untuk menopang kehidupannya, meski dengan resiko mengorbankan pelupuh tempat tidur milik satu-satunya dan dimarahi oleh suaminya.

Pelupuh tempat tidur merupakan lambing keharmonisan rumah tangga, tempat untuk memadu kasih dengan suaminya. Ini yang dikorbankan oleh Lasi, dengan demikian Lasi digambarkan oleh pengarang sangat berani mengambil resiko yang mungkin rumah tangganya tidak harmonis. Hal ini dikukuhkan oleh suami yang marah, kemarahan suami merupakan tanda adanya prioritas adanya kekuasaan laki-laki terhadap perempuan. Dengan adanya rasa kekhawatiran kemarahan suaminya menunjukkan bahwa Lasi masih berada di bawah kekuasaan suaminya, walaupun Lasi telah berani mengambil keputusannya sendiri.

Pembentukan tingkah laku yang secara sosial bahwa perempuan memakai fisiknya untuk tameng, untuk menghindari kekuasaan laki-laki telah diperoleh Lasi dari pendahulunya. Ini terungkap bahwa Lasi telah mendapat dari emaknya untuk menjaga agar suaminya tidak marah Lasi harus berdandan. Rupanya pengarang masih menerapkan konsep lama bahwa perempuan harus berdandan untuk melayani suaminya. Emak Lasi yang menyuruh Lasi untuk berdandan agar suaminya tidak marah yang dianggap Lasi merupakan suatu “kesalahan”. Emak Lasi telah membentuk secara sosiologis bahwa seorang istri yang perempuan berada di bawah kekuasaan suaminya yang laki-laki.

Kesetiaan Lasi sebagai istri Darso tiba-tiba dikejutkan oleh pengkhianatan Darso. Lasi melarikan diri ke Jakarta. Di Jakarta, Lasi ditampung oleh Bu Koneng. Oleh Bu Koneng, Lasi ditawarkan kepada Bu Lanting dan dijadikan barang dagangan.

…..Terakhir Bu Lanting giat menjalankan niaga istimewa untuk melayani pasar istimewa yang sangat terbatas di kalangan tinggi…..Maka pencarian gadis-gadis peninggalan tentara Jepang, dalam beberapa kasus tidak peduli dia sudah bersuami, pun dimulai. Bidang usaha bagi para calo bertambah…..

“Ayahnya Jepang asli. Bukan Cina seperti yang kamu pernah kena tipu,” Sambung bu Koneng.

“Oh, jadi barang yang kamu maksud seorang gadis keturunan Jepang?”

“Jangan keras-keras. Dia di dapur. Memang bukan gadis lagi. Tetap kamu akan lihat sendiri. Dipoles sedikit saja dia akan tampak seperti gadis Jepang yang sebenarnya. Nah, tunggu sebentar, akan kusuruh dia membawa the untuk kamu berdua.” (Tohari, 1993 : 139)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Lasi sebagai perempuan somahan, yang kebetulan keturunan Jepang, dianggap sebagai barang dagangan yang mendatangkan keuntungan. Laki-laki kelas tinggi atau yang berduit dapat menikmati apa yang diinginkan.

Melalui pandangan ini dapat dilihat adanya gambaran superior laki-laki terhadap perempuan. Lasi adalah gambaran perempuan alat pemuas kaum laki-laki. Hal ini terlihat pada cara berfikir bu Koneng yang sebetulnya tidak mempunyai kewenangan apa-apa atas diri Lasi, begitu dia dititipi Lasi oleh Pardi pikirannya tertuju pada sosok Lasi yang mempunyai nilai jual yang tinggi, Bu Koneng kemudian meneruskan kepada Bu Lanting yang memang berfikir bahwa perempuan memang barang dagangan yang mendatangkan keuntungan.

Lasi jatuh ke tangan Handarbeni dan dia tidak sebagai istri melainkan sebagai barang pajangan. Hal ini membuat Lasi tertekan. “Ya, Las. Kamu memang diperlukan Pak Han terutama untuk pajangan dan gengsi,” kata Bu Lanting” (Tohari, 1993: 266).

Pada novel Belantik posisi Lasi tidak berubah. Walaupun Lasi berstatus sebagai istri tetapi dia tetap dianggap sebagai barang yang dapat dipinjam. Seperti pada kutipan berikut :

…..Bambung, ah, lelaki momok ini! Dia bilang mau pinjam Lasi barang sebentar. Ya pinjam sebentar ! (Tohari, 2001: 5).

“Begini kalau tak salah, saya mendengar Anda pernah member kebebasan kepada Lasi. Bekisar itu Anda ijinkan mencari lelaki asal dia tutup mulut dan tetap menjadi istri Anda. Begitu, kan? Kok sekarang Anda kebakaran jenggot ketika Lasi mau dipinjam Bambung?” (Tohari, 2001: 15).

Kutipan tersebut menunjukkan adanya kesewenangwenangan laki-laki terhadap perempuan, walaupun sebetulnya pengarang telah menunjukkan bahwa Lasi sebagai perempuan diberi kebebasan untuk mencari kesenangan dengan mencari laki-laki lain karena suaminya, Handarbeni, impoten. Adanya penekanan kekuasaan berada di tangan laki-laki. Apabila ditinjau dari konsep dasar patriarki terdapat dua kutub yang sangat tajam yaitu adanya kaum penindas dan kaum tertindas. Adapun kaum tertindas ada pada diri tokoh perempuan.

Dari analisis tersebut diungkapkan oleh pengarang bahwa dalam novel ini terdapat kedudukan perempuan yang masih merupakan kaum lemah dan penekanan kekuasaan berada di tangan laki-laki. Kedudukan kaum perempuan yang di bawah kekuasaan laki-laki sebetulnya merupakan bentukan atau arahan secara sosiologis dari pendahulunya, yang sebetulnya oleh pengarang, perempuan sudah dilukiskan sebagai seorang yang mempunyai kekuatan untuk mengambil keputusan tanpa harus minta persetujuan laki-laki.


Teks Esai


Terperangkap Dalam Dunia Telepon Genggam


Dewasa ini, kehidupan manusia seakan-akan tidak dapat lepas dari teknologi. Dunia teknologi semakin berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Hal ini dibuktikan dengan munculnya teknologi berupa telepon genggam. Saat ini, di Indonesia, telepon genggam tidak hanya dimiliki oleh masyarakat kalangan atas, tetapi juga telah menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk masyarakat kalangan menengah ke bawah. Melalui web ugm.ac.id, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring, menyatakan jumlah pengguna ponsel di Indonesia adalah sebanyak 270.000.000 orang, sedangkan rasio kepemilikan ponsel paling banyak berada di DKI Jakarta dengan total 1,8% per orang.

Dunia berawal dari kesederhanaan. Kesederhanaan tersebut kemudian berkembang menjadi kemajuan yang melahirkan beragam kemudahan. Ada banyak manfaat yang dapat kita peroleh ketika teknologi mulai muncul lalu berkembang dengan pesat, baik kemudahan dalam komunikasi, mencari informasi, maupun sebagai hiburan. Semakin banyak produk telepon genggam muncul di pasaran dan menawarkan berbagai fitur menarik. Para produsen telepon genggam berlomba-lomba menguasai pasar. Mereka berusaha menyempurnakan produknya agar orang tertarik. Bahkan, tidak sedikit orang yang rela merogoh kantong mereka dalam-dalam demi membeli sebuah telepon genggam. Anak remaja dan anak kecil pun tak kalah. Banyak dari mereka yang mengumpulkan uang jajan demi mendapatkan telepon genggam yang mereka inginkan.

Tidak jarang, di berbagai tempat, kita menemui banyak orang yang menggunakan telepon genggam. Tidak hanya orang dewasa, anak remaja dan anak kecil pun tidak luput dari pengaruh telepon genggam. Hal ini membuktikan, bahwa telepon genggam, saat ini, bukan hanya sebagai gaya hidup, namun telah menjadi kebutuhan hidup setiap orang. Bahkan, seakan-akan manusia telah masuk ke dalam perangkap dunia teknologi. Sering kita melihat orang-orang yang hidupnya seperti tidak dapat lepas dari teknologi, terutama telepon genggam. Baik untuk urusan pekerjaan, tugas sekolah, maupun sekadar untuk hiburan. Namun begitu, penggunaan telepon genggam akan memberikan dampak baik positif maupun negatif.

Sering kita melihat di tempat-tempat umum, orang membawa telepon genggam. Mereka menatap layar telepon genggam seakan-akan tidak ingin mengalihkan perhatian pada yang lain. Bahkan, terkadang orang menjadi egois dan tidak memedulikan lingkungan sekitar. Misalnya, saat terjadi kecelakaan. Ada beberapa orang yang hanya merasa kasihan, tetapi tidak membantu. Ada juga orang yang justru mengeluarkan telepon genggamnya sekadar untuk mengambil foto kecelakaan tersebut lalu memgunggahnya ke media sosial. Sedikit sekali orang yang tergerak hati nuraninya untuk menolong korban kecelakaan tersebut. Hal ini merupakan salah satu fenomena yang tidak asing lagi kita temui pada kehidupan modern seperti saat ini. Manusia seakan terperangkap dalam dunia telpon genggam.

Hampir seluruh siswa di lingkungan SMA Negeri 2 Cimahi memiliki telepon genggam. Saat ada waktu luang, banyak ditemui siswa yang sibuk dengan telepon genggam mereka. Hal ini tidak mengherankan karena telepon genggam memang telah menjadi kebutuhan, bukan sekadar gaya hidup. Bahkan, pernah ada beberapa siswa yang tertangkap basah sedang melakukan kecurangan saat ujian dengan menggunakan telepon genggam. Selain itu, saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, siswa kadang-kadang kurang fokus. Beberapa siswa justru asyik dengan telepon genggam mereka ketika guru sedang mengajar. Namun, di samping dampak negatif, penggunaan telepon genggam juga menimbulkan dampak positif. Tidak sedikit manfaat yang diberikan oleh telepon genggam. Memudahkan manusia dalam berkomunikasi. Inilah salah satu manfaat telepon genggam yang paling menonjol yang dapat dirasakan manusia.

Sejarah Telepon Genggam

Telepon genggam merupakan salah satu produk teknologi yang berasal dari luar negeri yang kemudian masuk ke Indonesia. Berdasarkan sejarahnya, telepon genggam ditemukan pertama kali oleh Martin Cooper, seorang karyawan Motorola, pada tanggal 3 April 1973. Telepon genggam telah melalui beberapa generasi. Hal ini menandakan bahwa telepon genggam berkembang begitu pesat.

Sistem telepon genggam pertama diberikan lisensi di Amerika Serikat tahun 1983. Terdapat sekitar sejuta pengguna telepon seluler di Amerika pada tahun 1989. Ledakan besar telepon genggam datang kemudian. Walaupun penerimaan yang buruk dan kurangnya privasi (beberapa pengguna tidak memperdulikan hal ini atau secara terbuka mempertontonkan diri dalam menggunakan telepon), jumlah pengguna terus meroket di Eropa dan Asia sebagaimana di Amerika Serikat. Pada tahun 1996 terdapat lebih dari 6 juta pengguna telepon genggam di Inggris. Empat tahun kemudian, tepatnya antara April dan Juni 2000, tidak kurang dari 3,5 juta telepon genggam dijual ‘satu setiap dua detik’. Hal ini merupakan fenomena distribusi penting yang menginspirasi tajuk utama di The Times, ‘Half the country is mobile mad’ (Separuh negeri tergila-gila dengan telepon genggam) (Buku Sejarah Sosial Media, Asa Briggs, hal. 373, 2006).

Permasalahan dan Faktor Penyebab

Pertanyaan yang kemudian muncul seiring dengan perkembangan telepon genggam yang begitu pesat dan menimbulkan banyak dampak positif dan negatif ialah bagaimana dampak-dampak itu berpengaruh terhadap gaya hidup dan bagaimana cara untuk menyikapi hal tersebut?

Pada zaman modern seperti sekarang ini, hampir tidak ada orang yang tidak memiliki telepon genggam. Telepon genggam yang juga disebut sebagai smart phone kini telah merajalela dan berpengaruh hingga ke pelosok dunia.

Adanya telepon genggam dapat menimbulkan banyak dampak postif, antara lain sebagai media pembelajaran elektronik atau e-learning. Selain itu, telepon genggam juga memudahkan manusia untuk berkomunikasi jarak jauh. Dengan adanya telepon genggan memudahkan orang dalam mencari informasi, baik informasi dari dalam negeri maupun luar negeri.

Akan tetapi, di samping banyaknya manfaat yang diberikan oleh adanya telepon genggam, telepon genggam juga menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Dalam web ejournal. unsrat.ac.id, disebutkan bahwa gelombang elektromagnetik ponsel dapat mengurangi potensi kesuburan laki-laki dengan jenis dan derajat gangguan yang berbeda-beda. Di samping itu, kajian invivo menunjukkan kerusakan sel Leydig, penurunan diameter tubulus seminiferus, penurunan berat organ testis yang berakibat terjadinya infertilitas, memodulasi sistem imun, menyebabkan sukar tidur, menurunkan fungsi testis dan kadar hormon testoteron, menurunnya kualitas sperma berupa motilitas sperma, viabilitas, dan morfologi, serta demodulasi DNA. Efek biologis akibat pajanan gelombang elektromagnetik frekuensi rendah antara lain kanker, depresi, tumor otak, leukemia, abortus, kelelahan kronik pusing, katarak, gangguan jantung, stres, nausea, dan nyeri dada, perubahan kualitas dan kuantitas lekosit manusia, menghambat perkembangan folikel ovarium pada tahap folikel de Graaf dan penurunan jumlah total folikel mencit, penurunan aktivitas enzim membran seperti alkaline phosphatase, acetylecholinesterase, dan phosphoglycerate kinase, serta memengaruhi memori jangka panjang.

Tidak hanya gangguan kesehatan, telepon genggam juga dapat membuat orang menjadi lupa akan waktu. Dampak negatif tersebut kadang-kadang disebabkan karena kelalaian dari pengguna. Saat seseorang terlalu asyik bermain telepon genggam, orang tersebut menjadi lupa akan tugas-tugas dan tidak efektif dalam menggunakan waktu. Bahkan, kadang-kadang mereka lupa akan tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan. Terutama bagi pelajar, telepon genggam bak surga dunia yang sepertinya sulit untuk ditinggalkan. Tidak sedikit pelajar yang menghabiskan banyak waktu untuk menatap layar telepon genggam. Baik itu untuk mencari referensi, sumber belajar, maupun sekadar untuk hiburan. Hal inilah yang membuat pelajar kadang-kadang menjadi lupa akan kewajibannya untuk belajar.

Telepon genggam juga dapat menjadi sarana kecurangan di kalangan pelajar. Misalnya, menyontek saat ulangan. Selain itu, telepon genggam juga dapat mengganggu konsentrasi siswa. Siswa menjadi kurang fokus pada saat kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini dapat dilihat ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, tidak jarang siswa justru bermain handphone sementara guru sedang menerangkan pelajaran.

Sikap dan Upaya

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang ditimbulkan oleh telepon genggam ada bermacam-macam. Ada cara untuk mencegah, namun ada juga cara untuk menyikapi. Generasi muda saat ini harus benar-benar dapat menyaring dampak penggunaan telepon genggam. Terlebih lagi karena kemajuan bangsa Indonesia ada di tangan para generasi muda. Apalagi dengan adanya telepon genggam memudahkan orang mencari informasi yang bersumber dari seluruh dunia.

Pengguna telepon genggam harus bijaksana dalam menyaring informasi yang mudah didapatkan melalui telepon genggam. Kadang-kadang pelajar sangat mudah digoyahkan hatinya dengan telepon genggam, misalnya menjadi malas belajar. Oleh sebab itu, mereka harus benar-benar menjaga motivasi mereka dalam belajar. Mereka harus tetap fokus pada tujuan supaya tidak mudah tergoyahkan oleh apa pun, termasuk telepon genggam. Yang terpenting ialah menumbuhkan niat dari hati nurani, bagaimanapun caranya harus tetap belajar. Dengan begitu, mereka tidak mudah tergoda bermain telepon genggam saat sedang belajar maupun saat mengerjakan tugas.

Tidak jarang ditemukan siswa bermain telepon genggam saat guru sedang mengajar. Upaya yang dapat dilakukan supaya siswa tidak bermain telepon genggam saat pelajaran, salah satunya, dengan pengumpulan telepon genggam. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, telepon genggam siswa dikumpulkan kepada guru. Kemudian saat jam pulang sekolah, siswa dapat mengambilnya. Dapat juga telepon genggam diambil saat dibutuhkan, misalnya untuk mencari referensi pelajaran selain dari buku. Hal ini dilakukan supaya siswa dapat memusatkan perhatian pada guru yang sedang mengajar. Apabila seluruh siswa fokus memerhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru, tentunya kegitaan permbelajaran akan menjadi lebih efektif dan efisien. Cara ini dirasa lebih efektif daripada diberlakukan larangan membawa telepon genggam ke sekolah.

Selain upaya pengendalian penggunaan telepon genggam dalam dunia pendidikan, perlu juga dilakukan pengendalian penggunaan telepon genggam dalam kaitannya dengan kesehatan. Hal ini dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh telepon genggam. Jangan terlalu sering menatap layar telepon genggam untuk mencegah gangguan kesehatan mata. Mata juga perlu diistirahatkan. Kira-kira setelah satu jam bermain handphone, mata diistirahatkan. Selain itu, jangan terlalu sering meletakkan telepon genggam di dekat kepala saat sedang tidur, karena dapat merusak jaringan otak. Hal ini dikarenakan radiasi yang ditimbulkan oleh telepon genggam sangat berbahaya bagi kesehatan dan dapat menimbulkan penyakit kanker.

Bagi kita semua, terutama generasi muda, sebaiknya mengisi waktu luang dengan hal-hal yang positif. Sibukkan diri dengan mengikuti organisasi-organisasi supaya dapat berinteraksi dengan orang lain, tidak sekadar bermain handphone. Hal ini juga dapat membuat kita lebih peka dan peduli terhadap keadaan di lingkungan sekitar sehingga kita tidak menjadi orang yang acuh tak acuh, bahkan terkesan apatis.


Demikian tugas ini saya buat dengan penuh tanggung jawab. Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai evaluasi untuk pembuatan tugas berikutnya.


Komentar

  1. Teks kritik yang disajikan membahas makna puisi dengan sangat lengkap dan unsur unsur pembentukan puisinya pun dibahas dengan jelas. Dan teks esai nya juga sangat bagus.

    BalasHapus
  2. Teks Esai yang dibuat sangatlah menarik karena mengangkat topik yang sedang hangat dibicarakan. Teks kritik yang dibuat juga sudah menggunakan unsur dan kaidah kebahasaaan yang sesuai dengan aturan, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus
  3. Teks kritik dan esainya sudah dibuat sesai dengan struktur dan kaidah kebahasaan, pembahasan yang dipapar pun menarik.

    BalasHapus
  4. Teks kritik dan esai yang dibuat sudah sesuai dengan struktur,dan juga sudah terdapat unsur dan kaidah kebahasaan yang benar.

    BalasHapus
  5. Teks essai yang dibuat membahas topik yang sangat menarik dan mengedukasi bagi pembaca, selain itu gaya bahasa yang digunakan juga mudah untuk dimengerti dan disajikan dengan jelas sehingga pembaca tidak bosan.

    BalasHapus
  6. Teks kritik yang disajikan sudah baik dan pembahasannya sangat lengkap juga terdapat pemaparan kelebihan dan kekurangannya. Teks essai juga sudah disusun dengan baik sesuai dengan kaidah penyusunan teks essai.

    BalasHapus
  7. teks kritik dan esai yang di buat sudah bagus, sesuai dengan kaidah kebahasaan, selain itu struktur penulisannya pun sesuai, bahasa yang digunakan mudah di mengerti dan mudah di pahami, topik yang dibahas pun sangat menarik sekali

    BalasHapus
  8. Teks kritik yang dibuat sudah bagus dan sesuai baik itu kaidah kebahasaannya ataupun strukturnya. Teks esai yang dibuat juga sesuai dan cukup menarik.

    BalasHapus
  9. Teks essai yang dibuat sangat bagus dan menarik karena membahas topik yang mengedukasi kalangan masyarakat, sedangkan teks kritik yang dibuat sangat sesuai dengan unsur-unsur kaidah kebahasaan.

    BalasHapus
  10. Teks kritik yang dibuat sudah sesuai dengan unsur, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami selain itu memberikan informasi yang jelas bagi pembacanya. Teks esai yang dibuat juga sangat menarik untuk dibaca dan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Bahasa Indonesia